Rahasia di Balik Kesuksesan Sultan Muhammad Al-Fatih dalam Menaklukkan Konstantinopel

Enterha.com - Rahasia di Balik Kesuksesan Sultan Muhammad Al-Fatih dalam Menaklukkan Konstantinopel

Enterha.com - Mehmed II, atau dikenal sebagai Sultan Muhammad Al-Fatih. Sang penakluk benteng Konstantinopel. Nama aslinya adalah Mehmed Khan, namun Karena keberhasilannya membebaskan Konstantinopel, ia mendapat gelar “Al-Fatih”, sehingga banyak orang mengenalnya dengan nama Sultan Muhammad Al-Fatih.

Seorang Sultan dan kesatria Muslim abad ke-14 yang lahir pada 29 Maret 1432. Seorang pemuda tangguh nan gagah berani yang mengukir namanya dalam sejarah emas dunia, dengan prestasi dan pencapaian yang tidak pernah ada pada masanya ataupun masa sebelumnya, prestasi yang jauh melebihi masanya.

Sultan Muhammad Al-Fatih merupakan seorang pemimpin yang diramalkan oleh Rasulullah Saw. sebagai penakluk Konstantinopel dan sebagai sebaik-baiknya pemimpin. Sebagaimana sabda Nabi Saw. berikut ini.

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan” (H.R. Ahmad bin Hambal)

Mehmed II naik tahta dan memegang kekuasaan pada umurnya yang ke-19 tahun setelah kematian ayahnya pada tahun 1451. Begitu ia memegang kendali penuh pada pemerintahan, ia langsung menetapkan kebijakan-kebijakan penting dan akurat, sebagaimana yang biasa diambil oleh ayahnya ketika memimpin.

Ia membenahi pemerintahan dengan baik, ia menempatkan orang-orang kepercayaannya yaitu sahabat-sahabatnya yang kompeten sejak kecil pada posisi krusial dalam pemerintahan, dan beberapa kebijakan lainnya.

Hal yang ia fokuskan dalam kepemerintahannya adalah bagaiamana caranya berhasil membebaskan Kota Konstantinopel, impiannya yang tertanam sejak kecil, visi yang tertanam dengan kuat dan kokoh di dalam dadanya, meneruskan sebuah impian yang diwariskan dari para pendahulunya. Dan inilah saat yang tepat baginya untuk merealisasikan cita-cita yang diisyaratkan oleh sabda Nabi Saw. tersebut, saat-saat di mana ia benar-benar menduduki tangkup kepemimpinan, meneruskan perjuangan para pendahulunya yang sudah berjuang mengorbankan segalanya demi meninggikan kalimat tauhid.

Berbagai upaya dan usaha dilakukan untuk menaklukkan Konstantinopel. Berbagai cobaan, ujian, kesulitan, dan berbagai kendala ia hadapi dengan kesabaran dan kegigihan. Keberhasilan yang besar tidak bisa diraih dengan pengorbanan yang kecil dan sedikit. Sultan Muhammad Al-Fatih beserta pasukannya tidak pernah menyerah meski ia didesak oleh berbagai kesulitan, Ia benar-benar percaya akan kekuatan Allah Swt. Disamping itu, Sultan Muhammad Al-Fatih selalu bertawakkal kepada Allah akan kemenangan yang dijanjikan.

Sepertinya kalau saya ceritakan bagaimana kronologisnya Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan benteng Konstantinopel, bakal panjang lebar banget.  Pada tulisan ini saya hanya akan memaparkan rahasia di balik kesuksesannya saja, yah.

Berkat perjuangan dan kegigihan beliau, serta atas kehendak Allah Swt. akan janji kemenangan tersebut. Pada umurnya yang masih muda yaitu 21 tahun, ia telah berhasil menaklukkan benteng super power yang telah berdiri di daratan Eropa selama 1.123 tahun, yaitu benteng Konstantinopel.

Tidak kurang dari 23 kali benteng ini dikepung dan tidak ada satu pun yang mampu menembusnya. Pasukan Hungaria, Bulgaria, Rusia, termasuk pasukan kaum Muslim pada masa Khulafaur Rasyidin, juga kekhalifahan Umayyah, kekhalifahan Abbasiyyah dan kesultanan Utsmaniyah dipaksa bertekuk lutut dan mengakui keunggulan sistem pertahanan Konstantinopel.

Sebelumnya benteng ini tidak pernah ditaklukkan oleh siapa pun, bahkan ketika zaman Rasulullah Saw. benteng ini belum dapat ditaklukkan. Sampai sejarah itu runtuh pada tahun 1453. Benteng yang dijuluki sebagai benteng super power itu berhasil ditaklukkan oleh kegigihan seorang pahlawan Islam yang bercita-cita menaklukkan Konstantinopel demi memenangkan janji Allah Swt. hingga ia berhasil merealisasikan cita-citanya itu di umurnya yang masih muda, sungguh pemuda Muslim yang luar biasa.

Lantas apa saja rahasia di balik kesuksesan Sultan Muhammad Al-Fatih dalam menaklukkan benteng Konstantinopel dan menjadi seorang ahlu bisyarah Rasulullah Saw.???

Oke, langsung saja kita bahas satu per satu , silakan simak baik-baik, Sob.

Beriman dan Bertakwa Kepada Allah Swt.


Keimanan dan ketakwaan yang dimiliki oleh Sultan Muhammad Al-Fatih sangatlah tinggi. Ia selalu menghadirkan Allah dalam setiap langkahnya, selalu memohon petunjuk dan ridha Allah Swt.

Bahkan ia dijuluki sebagai “Pedang Malam” karena kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada kekuatan doa yang selalu ia lantunkan setiap malam  sambil melaksanakan ibadah sholat tahajud.

Semenjak menginjak usia balig, beliau tidak pernah meninggalkan shalat wajib dan sholat sunnah. Mehmed II tidak pernah sekalipun melewatkan shalat malam dan shalat sunnah rawatib hingga ia meninggal.

Sultan Muhammad Al-Fatih adalah satu-satunya panglima yang tidak pernah masbuq dalam sholatnya, dia selalu menunaikan sholatnya dalam keadaan berjamaah, senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, di sepertiga malam terakhirnya ia habiskan untuk bermunajat dan menangis dihadapan Allah Swt.

Sultan Muhammad Al-Fatih sudah hafal Al-Qur’an sejak kecil, tepatnya pada umur 8 tahun, ia telah menghafal keseluruhan isi Al-Qur’an dan mampu menjaga hafalannya dengan baik.

Ia sangat yakin dan tahu betul bahwa setiap kekuatan dan kemenangan yang ia raih adalah atas pertolongan dari Allah Swt. sehingga cara terbaik untuk meraih kemenangan adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah sebagai Tuhan yang mempunyai 
kehendak atas segala sesuatu, termasuk tercapainya janji dan bisyarah Rasulullah Saw. tidak lepas dari kehendak Allah Swt.

Sejak Kecil Sultan Muhammad Al-Fatih Dididik sebagai Seorang Penakluk.


Sejak kecil Sultan Muhammad Al-Faih dididik oleh seorang Ulama shalih yang berfokus untuk mendidiknya sebagai seorang penakluk.

Cita-cita untuk menaklukkan Konstantinopel dan menjadi seorang yang diramalkan oleh Rasulullah Saw. sebagai penakluk dan sebagai sebaik-sebaiknya pemimpin telah tertanam di dalam hatinya sejak kecil.

Sehingga ia mempersiapkan segala usaha dan upaya penaklukkan dalam waktu yang lama, dimulai sejak ia kecil.

Memaksimalkan dan Mengupayakan Segala Usaha yang Terbaik untuk Menaklukkan Konstantinopel.


Cita-cita menaklukkan Konstantinopel tidak bisa dilakukan oleh orang yang biasa saja dengan usaha dan upaya yang biasa saja.

Sultan Muhammad Al-Fatih memahami betul itu. Ia perlu segala sesuatu yang terbaik untuk menaklukkannya. Dari hal yang terkecil sampai hal yang terbesar ia memerlukan dan mengusahakan yang terbaik.

Ia yakin disamping pertolongan Allah. Kemenangan dalam pertempuran semua diawali dengan perencanaan yang matang dan segala upaya yang terbaik.

Dari strategi perang, pasukan perang, senjata perang, logistik, pemilihan waktu yang tepat, dan lain sebagainya penuh pertimbangan dan pemikiran yang matang, semua itu dilakukan untuk mencapai hasil yang terbaik. Sebuah kesungguhan yang tidak bisa dianggap remeh.

Bergerak Seolah Air Tenang Tanda Kedalaman.


Sultan Muhammad Al-Fatih naik takhta pada umur 19 tahun setelah Sultan Murad ayahnya menutup usia.

Hal ini menjadi kabar gembira bagi kaum Kristen di Eropa dan Konstantinopel. Bagi mereka Sultan Muhammad Al-Fatih adalah anak kecil yang tidak berpengalaman, lalai, polos dan lemah dalam kepemimpinannya.

Namun Sultan Mehmed II menerima keadaan itu, justru ia memanfaatkan hal tersebut, ia memilih dianggap remeh dan direndahkan oleh musuh-musuhnya sedangkan ia dan orang-orang kepercayaannya terus memformulasikan strategi paling jitu untuk membebaskan Konstantinopel.

Ia selalu menjaga rahasia dalam arah perang, sehingga tidak ada satu orang pun yang mengetahui strategi dan kemana ia akan membawa alur peperangan ini sampai ia memberangkatkan pasukannya untuk memulai ekspedisinya. Begitulah cara Sultan Muhammad Al-Fatih mengorganisir pembebasan Konstantinopel.

Salah satu yang menarik dari strategi perang Sultan Muhammad Al-Fatih adalah kehebatannya dalam menghadirkan unsur kejutan yang ada dalam setiap strategi perang yang dibuatnya. Musuh-musuhnya selalu dibuat terkejut, takjub, putus asa, dan bertekuk lutut melihat bagaimana keahlian panglima perang terbaik ini dalam merancang strategi perang.

Kecerdasan, Kecepatan dalam Bertindak, Pantang Menyerah, dan Bersabar Terhadap Cobaan atau Ujian yang Menimpanya.


Sultan Muhammad Al-Fatih adalah orang yang cerdas dan ahli dalam strategi perang. Ia mampu memberi efek kejutan bagi musuh dengan strategi-strategi perangnya yang begitu rahasia dan mengagumkan, sehingga membuat musuh-musuhnya dibuai ketidakpercayaan dan dibuat jatuh mental olehnya.

Kecepatan bertindak menjadi kunci kedisiplinan pasukan perang yang dimiliki oleh Sultan Muhammad Al-Fatih, ia bergerak cepat dan tidak melalaikan sesuatu pun.

Awal ekspedisi penaklukkan dan pengepungan konstantinopel, Sultan Muhammad Al-Fatih mengalami beberapa kendala dan kesulitan bahkan kegagalan dalam satu dan lain hal. Tetapi hal itu tidak membuatnya menyerah, ia selalu berjuang untuk mewujudkan cita-citanya dan pantang menyerah. Ia percaya bahwa segala kesulitan yang ia hadapi merupakan bentuk ujian keimanan dari Allah Swt. sehingga ia menghadapinya dengan penuh ketabahan dan kesabaran.

“Sesungguhnya Allah meletakkan pedang di tanganku untuk berjihad di jalan-Nya. Maka jika aku tidak mampu untuk bersabar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan ini dan tidak aku lakukan kewajiban dengan pedang ini maka tidak pantas bagiku untuk mendapat gelar Al-Ghazi (Kesatria Islam) yang aku sandang sekarang ini. Lalu bagaimana aku akan menemui Allah pada hari kiamat nanti?” (Mehmed II)

Bersyukur Kepada Allah Swt. atas Segala Pencapaian.


Segala pencapaian yang berhasil ia capai, tidak lain dan tidak bukan, merupakan pertolongan dan kehendak Allah Swt. sehingga ia tidak pernah lepas dari bersyukur atas segala pencapaian dan kemajuan yang telah diraih.

Terbukti ketika Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel, hal pertama yang ia lakukan adalah melakukan sujud syukur sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt.

Haus akan Ilmu Pengetahuan.


Dalam sumber sejarah disebutkan bahwa Sultan Muhammad Al-Fatih mempunyai perpustakaan pribadi yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Berjilid-jilid buku dibacanya, ia membaca buku agama, sejarah, sastra, dan tak ketinggalan buku-buku strategi perang.

Sejak kecil ia dididik untuk mencintai ilmu pengetahuan. Sejak kecil Muhammad Al-Fatih sudah mampu menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Imam Suyuthi menulis, “Sesungguhnya ia adalah seorang yang berilmu lagi faqih. Para ulama pada zamannya telah menjadi saksi atas kelebihan serta kekonsistenan beliau. Dan ia melampaui rekan-rekannya dalam ilmu-ilmu ma’qul dan manqul. Mahir dalam nahwu, ma’ani dan bayan, serta fiqh, dan masyhur dengan berbagai keutamaan.”

Menciptakan Inovasi Baru, Metode-Metode yang Diluar Dugaan, bahkan Dianggap Mustahil.


Dalam perjuangannya menaklukkan Konstantinopel, diantara upaya yang ia lakukan dengan kecerdasannya yang dimiliki adalah mempelajari taktik dan strategi perang para pendahulunya. Ia mengkaji, mempelajari, menganalisis, dan banyak belajar dari pengalaman terdahulu yang dilakukan para pendahulunya dalam upaya membebaskan benteng Konstantinopel.

Orang yang diramalkan sebagai sebaik-baik pemimpin itu menciptakan inovas-inovasi baru yang mampu memberikan efek kejutan bagi musuh. Ia menciptakan senjata baru yang belum pernah ada pada masanya. "Meriam Balisca", meriam terbesar dan memiliki jarak tembak yang sangat jauh, meriam itu merupakan meriam terbaik dan belum ada yang mampu menandinginya pada masa itu. Serta pedang yang digunakan sebagai senjata pasukannya itu merupakan pedang tertajam yang ditempa dengan cara khusus dan hanya orang-orang tertentu yang bisa membuatnya. 

Semua itu lahir dari inovasi yang keluar dari pemikiran brilian Sultan Muhammad Al-Fatih, namun tetap tidak lepas dari petunjuk Allah Swt. Ia sadar bahwa para pendahulunya merasa kesulitan dalam menghancurkan benteng raksasa tiga lapis ini hanya dengan meriam kecil yang jarak tembaknya tidak cukup jauh, dari hal itu ia berinovasi dan bereksperimen melibatkan para ahli untuk membuat meriam raksasa yang belum pernah ada pada masanya dan masa sebelumnya.

Bukan hanya inovasi dalam hal senjata, metode dan strategi perangnya pun tidak pernah ada yang menduganya, sehingga musuh dibuat terkejut dan dipenuhi rasa ketidakpercayaan atas usaha dan upaya yang dilakukan oleh panglima terbaik ini.

Belajar dari Pengalaman dan Kegagalan.


Saat Mehmed II berumur dua belas tahun, ia pernah merasakan rasanya memimpin dan memegang sebuah kekuasaan, sementara ayahnya fokus untuk beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah Swt. setelah memadamkan pemberontakan yang terjadi di Karaman.

Namun Mehmed II pada saat itu masih terlalu muda dan belum memiliki pengalaman yang cukup dalam urusan memimpin. Sehingga ia mengalami kegagalan dalam memimpin pada waktu itu. 

Akibatnya, terjadi pemberontakan dimana-mana. Para menteri pun merendahkan dan meremehkannya, menganggap bahwa Mehmed II tidak bisa memimpin. Belum lagi adanya penyerangan dari pasukan salib. Hal itu membuat Mehmed II terpukul dan merasa jatuh harga dirinya sebagai sultan, ia berada pada kondisi kalah dan terhina.

Dalam keadaan seperti itu, Mehmed memilih untuk mundur dari kekuasaannya saat itu dan meminta ayahnya untuk kembali memimpin. Ketika Ayahnya kembali memimpin, sementara Mehmed II berada pada posisi paling rendah diantara orang-orang kerajaan pada waktu itu. Akhirnya Mehmed II memilih untuk mengasingkan diri ke daerah Manisa, masih termasuk daerah kekuasaan ayahnya, ia dididik oleh seorang ulama shalih, menempa diri dan banyak belajar di sana. Memantaskan diri untuk menjadi generasi penerus ayahnya dalam memimpin kesultanan Turki Utsmani. Sampai akhir pemerintahan ayahnya, Manisa adalah tempat penempaan Mehmed untuk menjadi seorang penakluk terbaik.

Ia kembali setelah ayahnya menutup usia, menggantikan posisi ayahnya sebagai sultan. Dalam waktu dua tahun ia membenahi seluruh kekurangan dan kelemahannya lalu membuktikan bahwa ia layak menjadi pemimpin.

Usianya baru 19 tahun ketika ia memegang kekuasaan menggantikan posisi ayahnya. Sedangkan dunia barat, baik Konstantinopel maupun Eropa meremehkannya dan menganggapnya sebagai anak remaja manja tak berpengalaman yang memiliki catatan kepemimpinan yang buruk. Namun orang yang bertemu dengannya akan terkesan. Ia memiliki keelokan fisik, seorang pemuda yang memiliki kegigihan dan kekerasan niat dalam mencapai apa yang menjadi impiannya. Dia memiliki kecerdikan akal, kecepatan gerak, dan keberanian yang kelak akan diingat oleh setiap kawan dan lawannya. Dia mampu melakukan tipu muslihat tingkat tinggi dalam peperangan dengan mengandalkan unsur kejutan, strateginya benar-benar tidak bisa diprediksi oleh musuh.

Hingga akhirnya ia berhasil menaklukkan Konstantinopel pada 29 Mei 1453. Sebuah pencapaian yang belum pernah dicapai pada masanya dan masa sebelumnya. Sebuah prestasi yang mulia jauh melebihi masanya. Dunia mengakui kehebatannya, Ia telah berhasil menoreh sejarah emas untuk kemuliaan dan kejayaan Islam.

Penutup.


Itulah beberapa rahasia kesuksesan Sultan Muhammad Al-Fatih dalam menaklukkan benteng Konstantinopel. Sebenarnya banyak sekali rahasia dan kiat-kiat beliau dalam menggapai cita-citanya. Namun tidak dapat dituliskan dalam artikel ini karena jumlahnya yang sangat banyak. Hehehe.

Baiklah, Semoga dengan ditulisnya artikel ini, Sobat pembaca bisa mengambil banyak pelajaran dari perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih, tentunya diharapkan mampu memberikan kita motivasi, inspirasi, dan semangat positif untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

18 komentar

  1. Bagus gan tulisannya, sangat bermanfaat

    BalasHapus
  2. Thanks gan atas pengetahuan nya👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip... Sama-sama, Kak. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  3. Wah bagus nih blog agan

    BalasHapus
  4. Thank gan ilmunya, saya harap kedepannya blog ini bisa suksess

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Kak. Aamiin... Terima kasih do'anya.

      Hapus
  5. Artikel bagus, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari tulisannya..makasih udah share tulisannya gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali. Semoga bermanfaat, Kak.

      Hapus
  6. mantul bro... artikel yg bisa meningkatkan iman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak, Kak. Syukur Alhamdulillah. :)

      Hapus
  7. Benar benar menginspirasi, semoga saya memiliki sifat hebat seperti beliau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Kak. Semoga bermanfaat dan membantu.

      Aamiin ...

      Tokoh Muhammad Al-Fatih merupakan inspirasi terbesar bagi saya loh, kak. Hehehe. Saya pun berharap bisa memiliki sifat hebat seperti beliau. :D

      Hapus
  8. Bukti kesuksesan pendidikan islam, yakni mampu menghasilkan pemuda2 islam yang suskes di usia dini.. coba kalau sekarang, usiA 19 th kita sudah jadi apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar sekali, Kak. Saat ini banyak yang harus kita benahi. pergeseran zaman beserta pengaruhnya, membuat pola pendidikan dan pola pembelajaran mengendur.

      Hapus
  9. mantap tulisannya min, nambah wawasan, sukses selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Kak. Semoga bermanfaat dan membantu. :)

      Hapus


EmoticonEmoticon